BUMDes Alasbuluh Integrasikan Usaha Ternak dengan Intervensi Gizi, Jadi Model Pengentasan Kemiskinan
BUMDes Alasbuluh Integrasikan Usaha Ternak dengan Intervensi Gizi, Jadi Model Pengentasan Kemiskinan

BUMDes Alasbuluh Integrasikan Usaha Ternak dengan Intervensi Gizi, Jadi Model Pengentasan Kemiskinan

BINTANGTENGGARA – Inovasi pengentasan kemiskinan sekaligus penanganan kerentanan gizi lahir dari tingkat desa. Pemerintah Desa Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, mengembangkan usaha peternakan ayam petelur yang tidak hanya menjadi sumber pendapatan asli desa, tetapi juga terintegrasi langsung dengan program intervensi gizi masyarakat.

Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemerintah desa mengelola kandang berkapasitas lebih dari seribu ekor ayam. Unit usaha yang mulai beroperasi penuh sejak awal Desember 2025 itu dirancang sebagai model “ekonomi melayani”, di mana hasil produksi tidak seluruhnya dijual ke pasar, melainkan sebagian dialokasikan bagi warga rentan.

Pendamping Desa Alasbuluh, Eko Mulyono, menjelaskan bahwa skema tersebut disusun untuk menjawab dua persoalan sekaligus: peningkatan ekonomi desa dan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

“Kami ingin BUMDes tidak hanya menghasilkan keuntungan materi, tetapi juga memiliki fungsi sosial. Dari hasil musyawarah desa, disepakati bahwa telur sebagai sumber protein hewani harus bisa diakses oleh ibu hamil dan balita yang terindikasi kurang gizi,” ujarnya di sela pendistribusian telur dalam kegiatan posyandu, Selasa (24/2/2026).

Kandang seluas 120 meter persegi yang dibangun dengan anggaran desa sekitar Rp300 juta itu mampu menghasilkan rata-rata 15 kilogram telur per hari. Sebagian produksi secara rutin disisihkan untuk program sosial berbasis data kesehatan.

“Setiap bulan, saat kegiatan posyandu, kami bagikan sepuluh butir telur per sasaran. Mekanismenya terintegrasi dengan data penerima manfaat dari dinas kesehatan, sehingga tepat sasaran,” kata Eko.

Model pembangunan berbasis usaha desa ini mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat meninjau lokasi peternakan pada Senin (23/2/2026). Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa desa mampu menjadi aktor utama pembangunan yang inklusif.

“Ini contoh bagaimana desa hadir di tengah warganya. Tidak sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga membangun ketahanan pangan berbasis kebutuhan lokal. Ketika desa memiliki usaha sendiri, intervensi terhadap masalah seperti stunting tidak perlu menunggu bantuan dari luar,” ujar Ipuk.

Ia menambahkan, penguatan pangan melalui BUMDes merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Telur yang dihasilkan tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan juga instrumen kesehatan masyarakat.

“Telur dari kandang ini bukan hanya produk, tetapi juga ‘obat’ untuk mencegah stunting. Dampaknya langsung dirasakan oleh peningkatan gizi anak-anak dan ibu hamil. Ini ujung tombak kemandirian pangan desa,” tegasnya.

Selain mendukung program sosial, produksi telur yang dipasarkan ke warga sekitar dan wilayah Wongsorejo mendapat respons positif. Masyarakat dapat memperoleh telur segar dengan harga terjangkau, sekaligus berkontribusi menjaga keberlanjutan usaha desa.

Pemerintah daerah berharap model ekonomi sirkular yang memadukan pemberdayaan ekonomi dan intervensi kesehatan ini dapat direplikasi oleh desa-desa lain sebagai strategi terpadu dalam menekan kemiskinan serta mengatasi persoalan gizi kronis di daerah. (Asr)

About Bintang Tenggara

Check Also

Kapolresta Banyuwangi Pimpin High Level Meeting on The Spot Cek Stok Pangan dan Energi

Kapolresta Banyuwangi Pimpin High Level Meeting on The Spot Cek Stok Pangan dan Energi

BINTANGTENGGARA – Mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Kapolresta Banyuwangi Kombes …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *