Pisang Cavendish Banyuwangi Tempus Pasar Papua Serap Puluhan Tenaga Pekerja
Pisang Cavendish Banyuwangi Tempus Pasar Papua Serap Puluhan Tenaga Pekerja

Pisang Cavendish Banyuwangi Tempus Pasar Papua Serap Puluhan Tenaga Pekerja

BINTANGTENGGARA – Di bawah sejuknya matahari pagi, puluhan tandan pisang cavendish bergelantungan siap dipanen di Perkebunan Bayu Kidul, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Buah dengan merek Zea Banana ini tak hanya akan memenuhi meja-meja makan di Jawa, tetapi bersiap menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi lautan menuju ujung timur Indonesia, Kabupaten Mimika, Papua.

Pengiriman komoditas hortikultura ini menjadi bukti, bahwa tanah di Bumi Blambangan ini masih subur dan produktif, mampu menghasilkan buah premium dengan daya saing tinggi.

Puluhan tangan bekerja sangat terampil di packing house Bayu Kidul, suasana tersebut bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas petik, melainkan denyut nadi ekonomi yang kian berdetak kencang.

Pemandangan ini seolah menjadi potret nyata bahwa Bumi Blambangan tak hanya kaya akan destinasi wisata. Di balik pesona alamnya, Banyuwangi menyimpan kekuatan agraris yang tak terbantahkan.

Perwakilan manajemen Zea Banana, Wibi Untoro, mengawasi langsung proses panen yang berlangsung pagi itu. Menurutnya, ekspansi pasar ke Papua adalah jawaban atas tingginya permintaan akan buah berkualitas di wilayah timur Indonesia.

“Peluang pasarnya sangat terbuka lebar. Kami tidak hanya menjual, tetapi juga membangun sistem distribusi yang andal bersama sejumlah mitra perusahaan besar,” ujar Wibi, Rabu (18/2/2026).

Dibalik kesuksesan tembusnya pasar Papua, terdapat dampak sosial yang langsung dirasakan masyarakat sekitar. Dalam sekali periode panen, tak kurang dari 50 tenaga kerja lokal diserap.

Mereka adalah warga lokal yang kini memiliki penghasilan tetap dari berbagai lini produksi, mulai dari memotong tandan di kebun, melakukan sortasi ketat di meja penyortiran, membersihkan buah di bak pencucian, hingga merapikan kemasan di packing house Zea Banana Bayu Kidul.

“Dulu kerja serabutan, sekarang Alhamdulillah ada kepastian. Setiap panen, kami semua kerja di sini,” tutur salah satu pekerja yang enggan disebutkan namanya.

Aktivitas ini menjadi bukti bahwa agribisnis mampu menjadi lokomotif pengentasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja langsung. Melihat tren pasar yang positif, Zea Banana tak berencana berjalan sendiri.

Wibi menegaskan bahwa perusahaan tengah gencar mengajak lebih banyak petani lokal untuk bergabung dalam skema kemitraan. Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan volume produksi sekaligus menaikkan taraf hidup petani.

“Banyuwangi memiliki potensi luar biasa untuk menjadi dapur produksi pisang cavendish nasional. Jika dikelola dengan baik, bukan hanya Papua, pasar yang lebih luas lagi akan kita jangkau,” pungkas Wibi. (Asr)

About Bintang Tenggara

Check Also

Perbedaan Awal Ramadan, MUI Banyuwangi Serukan Saling Menghormati dan Belajar

Perbedaan Awal Ramadan, MUI Banyuwangi Serukan Saling Menghormati dan Belajar

BINTANGTENGGARA – Perbedaan awal Ramadan di kalangan umat Islam tak seharusnya dijadikan sebagai ajang saling …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *