BINTANGTENGGARA – Komoditas hasil laut Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan tajinya di pasar internasional. Salah satu produk yang kini menjadi primadona adalah koral hias hasil budidaya yang diminati oleh pasar Asia, Amerika, hingga Eropa.
Salah satu pelaku usaha yang konsisten menembus pasar global adalah Sri Kandi Aquarium Banyuwangi. Berlokasi di Kecamatan Kalipuro, usaha ini rutin melakukan ekspor koral hias untuk memenuhi kebutuhan akuarium laut rumahan yang trennya meningkat di berbagai negara.
Pemilik Sri Kandi Aquarium, I Ketut Sukandi, menjelaskan bahwa pihaknya membudidayakan sekitar 39 jenis koral. Dua di antaranya menjadi primadona yang paling diminati pasar, yakni Euphyllia dan Acropora, karena memiliki ragam varian warna yang eksotis.
“Penanaman kita lakukan di laut. Untuk kebutuhan ekspor, biasanya kita panen antara usia 3 bulan hingga 2 tahun, sesuai permintaan pasar,” ujar Kandi kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat kunjungan ke lokasi budidaya.
Proses pascapanen dilakukan dengan teliti. Sebelum diekspor, koral-koral yang telah dipanen akan didisplay dan disiapkan di dalam akuarium. Di tempat ini terdapat 20 akuarium air laut yang masing-masing mampu menampung 200 koral siap ekspor. Setiap akuarium dilengkapi dengan sistem sirkulasi air dan sinar Ultra Violet (UV) untuk menjaga kualitas biota laut tersebut.
Kandi menceritakan, usahanya telah mengantongi izin ekspor dari kementerian sejak tahun 2011. “Permintaan terus bertambah. Saat ini pasar terbesar kami adalah China, Amerika Serikat, dan Eropa,” ungkapnya.
Dalam setiap pengiriman, Sri Kandi Aquarium mampu mengekspor 200 hingga 1.200 pieces koral. Nilai ekonomi yang dihasilkan pun tak bisa diremehkan, mencapai sekitar USD 6.000 dalam satu kali pengiriman.
Bupati Ipuk Fiestiandani yang meninjau langsung lokasi budidaya mengapresiasi upaya pengembangan koral hias tersebut. Menurutnya, usaha ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga sejalan dengan upaya konservasi. Pasalnya, sistem budidaya yang diterapkan tidak mengambil koral langsung dari alam.
“Koralnya cantik-cantik dan banyak ragamnya, dan ini semua merupakan hasil budidaya. Ini membuktikan bahwa ekonomi bisa tumbuh tanpa merusak lingkungan,” puji Ipuk.