Berkat Program Garda Ampuh Banyuwangi, Riki dan Nur Kini Bisa Bersekolah

Banyuwangi – Program Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh) yang digagas Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus diintensifkan. Hal tersebut terbukti ketika salah seorang putra Banyuwangi kembali mengenyam pendidikan.

Adalah Nur Natasya, asal Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo. Nur, sebelumnya putus sekolah setelah lulus dari SDN 4 Temurejo. Dia bahkan pergi untuk bekerja sebagai staf di sebuah warung makanan di Pulau Bali. Begitu diketahui oleh Tim Garda Ampuh, yang bersangkutan dijemput di Bali untuk kembali disekolahkan ke SMPN 3 Bangorejo dengan semua biaya penunjang dari pemerintah daerah. Sejak 8 Agustus 2016 lalu, Nur Natasya sudah memulai pembelajaran di kelas 7 A SMPN Bangorejo.

”Adik Nur ini sempat pergi ke Bali. Lalu oleh tim dijemput dan disekolahkan sepenuhnya. Biaya dasar sekolah sebenarnya sudah gratis, tapi memang butuh dana seperti uang saku, beli sepatu, beli tas, atau mungkin biaya transportasi ke sekolah. Ini yang harus diselesaikan bersama,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat mengunjungi rumah Nur, Senin (22/8).

Anas sengaja mengunjungi Nur setelah membaca laporan Dinas Pendidikan terkait program Garda Ampuh. ”Saya sengaja cek di daerah sini. Karena desa ini sudah paling ujung, sebelahnya sudah langsung kawasan hutan. Saya cek apa betul dinas bergerak dengan baik,” kata Anas.

Nur Natasya mengaku sangat bergembira bisa kembali bersekolah. ”Saya ingin terus sekolah, kalau bisa sampai kuliah biar bisa bantu orang tua. Sebelumnya saya sempat mau kerja di Bali. Alhamdulillah sekarang diajak kembali bersekolah,” kata siswi berhijab ini.

Orang tua Nur, Suryanti, bergembira anaknya bisa kembali bersekolah. ”Semuanya gratis, mulai biaya sekolah, sepatu, seragam, dan tas,” ujar Suryanti yang bekerja sebagai buruh tani.

Selain mengunjungi Nur, di desa itu Anas menemui Riki Agus yang juga berhasil terjaring dalam program Garda Ampuh. Riki awalnya sekolah di salah satu MTs yang ada di Kecamatan Muncar. Namun, dia hanya bertahan satu semester. Riki terkendala biaya di MTs, apalagi dia juga harus pergi-pulang dari rumahnya yang cukup jauh dengan lokasi sekolah.

Riki lalu sempat bekerja di Bali, tapi kemudian dia ditemukan Tim Garda Ampuh dan dibawa kembali bersekolah di SMPN 3 Bangorejo yang lebih dekat dari rumahnya. Dia langsung mulai pembelajaran di kelas 7 semester dua sejak enam bulan lalu. Sekarang dia sudah naik ke kelas 8. ”Saya sempat putus asa, tidak tahu harus berbuat apa. Alhamdulillah sekarang kembali sekolah, dan sudah naik kelas,” ujar Riki.

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono mengatakan, berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, terdapat 5.141 anak putus sekolah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.435 anak telah berhasil dikawal hingga lulus SMA/sederajat pada bulan Juli lalu. Saat ini yang sedang dalam masa penanganan alias disekolahkan kembali sebanyak 2.668 anak dari berbagai tingkatan.

Adapun 1.041 lainnya masuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang merupakan pendidikan nonformal bagi masyarakat yang membutuhkan. ”Pendekatan program ini bisa mengajak anak kembali ke sekolah, bisa ikut pendidikan kesetaraan (paket a, b, c), ula (pendidikan diniyah formal setara SD/MI), wustho (setara SMP/MTs), Ulya (setara SMA/SMK/MA), dan pendidikan kecakapan seperti diberi keterampilan yang bisa menjadi bekal hidupnya,” terang Sulihtiyono. (Humas)

Rizki Restiawan

About Rima Indah

Check Also

Kakak Adik Terpisah Sejak Tahun1971, Dipertemukan Oleh Pendengar RBT di Malangsari Banyuwangi

Sudah sekian kali Radio Bintang Tenggara melalui Pendengarnya bisa mempertemukan orang orang yang kesulitan mencari sanak saudaranya yang terpisah bertahun tahun. Seperti yang dialami pak Sutrisno warga Pontianak yang mencari saudara kandungnya bernama Lilik Koriyati terpisah sejak 1971.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *